.....sekedar info content blog ini BUKAN MURNI sepenuhnya hasil karya pemilik blog oleh sebab itulah setiap content dari blog ini "dicantumkan" dengan tulisan sumber atau asal kontent blog ini berasal, terimaksih sebelumnya....




.....Informasi Reader Saat ini tampilan Terbaik content blog dapat dinikmati dengan
Opera Browser
Dan IE Browser 7 ke atas



Friday, April 17, 2009

2100 Bumi Akan Panas Sekali

Kamis, 16 April 2009 | 13:56 WIB KOMPAS.com —

bumi.jpg

 

COLORADO, Ancaman pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.

 

Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub Utara dan tanah beku serta kenaikan mencolok permukaan air laut, dapat dihindari.

 

Studi tersebut, yang dipimpin oleh beberapa ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR), direncanakan disiarkan pekan depan di dalam Geophysical Research Letters. Penelitian itu didanai oleh Department of Energy dan National Science Foundation, penaja NCAR.

 

"Penelitian ini menunjukkan kita tidak lagi dapat menghindari pemanasan mencolok selama abad ini," kata ilmuwan NCAR Warren Washington, pemimpin peneliti tersebut.

 

Temperatur rata-rata global telah bertambah hangat mendekati 1 derajat celsius (hampir 1,8 derajat fahrenheit) sejak era pra-industri. Kebanyakan pemanasan disebabkan oleh buangan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama karbon dioksida.

 

Gas yang memerangkap panas itu telah naik dari tingkat era pra-industri sekitar 284 bagian per juta (ppm) di atmosfer jadi lebih dari 380 ppm hari ini.

 

Sementara penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan tambahan sebesar 1 derajat celsius (1,8 derajat fahrenheit) mungkin menjadi permulaan bagi perubahan iklim yang berbahaya, Uni Eropa telah menyerukan pengurangan dramatis buangan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca. Kongres AS juga sedang membahas masalah itu.

 

Guna mengkaji dampak pengurangan semacam itu terhadap iklim di dunia, Washington dan rekannya melakukan kajian superkomputer global dengan menggunakan Community Climate System Model, yang berpusat di NCAR.

 

Mereka berasumsi, tingkat karbon dioksida dapat dipertahankan pada angka 450 ppm pada penghujung abad ini. Jumlah tersebut berasal dari US Climate Change Science Program, yang telah menetapkan 450 ppm sebagai sasaran yang bisa dicapai jika dunia secara cepat menyesuaikan tindakan pelestarian dan teknologi hijau baru guna mengurangi buangan gas secara dramatis.

 

Sebaliknya, buangan gas sekarang berada di jalur menuju tingkat 750 ppm paling lambat pada 2100 jika tak dikendalikan.

 

Hasil tim tersebut memperlihatkan kalau karbon dioksida ditahan pada tingkat 450 ppm, temperatur global akan naik sebesar 0,6 derajat celsius (sekitar 1 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini sampai akhir abad ini.

 

Sebaliknya, studi itu memperlihatkan, temperatur akan naik hampir sebesar empat kali jumlah tersebut, jadi 2,2 derajat celsius (4 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini, kalau buangan gas dibiarkan terus berlanjut di jalurnya saat ini.

 

Menahan tingkat karbon dioksida pada angka 450 ppm akan memiliki dampak lain, demikian perkiraan studi contoh iklim itu.

 

Kenaikan permukaan air laut akibat peningkatan panas karena temperatur air menghangat akan menjadi 14 sentimeter (sekitar 5,5 inci) dan bukan 22 sentimeter (8,7 inci). Kenaikan mencolok permukaan air laut diperkirakan akan terjadi karena pencairan lapisan es dan gletser.

 

Volume es Kutub Utara pada musim panas menyusut sebanyak seperempat dan diperkirakan akan stabil paling lambat pada 2100. Suatu penelitian telah menyatakan, es musim panas akan hilang sama sekali pada abad ini jika buangan gas tetap pada tingkat saat ini.

 

 

Pemanasan Kutub Utara akan berkurang separuhnya sehingga membantu melestarikan populasi ikan dan burung laut serta hewan mamalia laut di wilayah seperti di bagian utara Laut Bering.

 

Perubahan salju regional secara mencolok, termasuk penurunan salju di US Southwest dan peningkatan di US Norhteast serta Kanada, akan berkurang sampai separuh kalau buangan gas dapat dipertahankan pada tingkat 450 ppm.

 

Sistem cuaca itu akan stabil sampai sekitar 2100, dan bukan terus menghangat. Tim penelitian tersebut menggunakan simulasi superkomputer guna membandingkan skenario peristiwa biasa melalui pengurangan dramatis buangan karbon dioksida yang dimulai dalam waktu sekitar satu dasawarsa.

 

Penulis kajian tersebut menegaskan, mereka tidak mengkaji bagaimana pengurangan seperti itu dapat dicapai atau menyarankan kebijakan tertentu.

 

"Tujuan kami ialah menyediakan bagi pembuat kebijakan penelitian yang sesuai sehingga mereka dapat membuat keputusan setelah mendapat keterangan," kata Washington.

 

"Studi ini menyediakan suatu harapan bahwa kita dapat menghindari dampak terburuk perubahan iklim, jika masyarakat dapat mengurangi buangan dalam jumlah besar selama beberapa dasawarsa mendatang dan melanjutkan pengurangan utama sepanjang abad ini."

 

BNJ

Sumber : Antara

 

Lunar Oasis untuk Bertani di Luar Angkasa

Rabu, 15 April 2009 | 23:03 WIB KOMPAS.com –

lunar.jpg

 

WASHINGTON, Meski tak ada oksigen di Bulan, tumbuh-tumbuhan sudah bisa ditanam di sana. Paragon Space Development Corporation telah mengembangkan rumah kaca portabel yang dapat dipakai untuk membudidayakan tanaman di ruang angkasa.

 

Bentuk rumah kaca yang lebih mirip lampu taman itu hanya setinggi 46 centimeter. Tabung kaca bening diperkuat dengan alas berbentuk segitiga dari bahan aluminium. Di dalamnya terdapat media tanam dan nutrisi yang cukup untuk menumbuhkan biji tanaman jenis Brassica, sejenis caisim atau kailan yang berbunga kuning.

 

Miniatur rumah kaca yang didesain untuk mendukung pertanian di luar angkasa itu disebut Lunar Oasis. Uji coba pertamanya ke permukaan Bulan direncanakan tahun 2012 menggunakan pesawat buatan Odyssey Moon Ltd. yang kini masih dikembangkan.

 

"Mendiami Bulan atau Mars kelihatannya masih lama, namun penting untuk melakukan penelitian sejak sekarang," ujar Jane Poynter, presiden Paragon. Apalagi, untuk menciptakan sistem pendukung kehidupan yang efisien dan layak juga membuthkan penelitian lama.

 

 

NASA berambisi mengirimkan kembali manusia ke Bulan pada tahun 2020 dan ke Mars tahun 2030. Jika tanaman bisa dibudidayakan di sana, astronot tak perlu setiap hari makan pasta dan pil. Makan sayur segar pun bisa setiap saat.

 

WAH

Sumber : AFP

 

Suhu Udara di Indonesia Rata-rata Naik

Selasa, 31 Maret 2009 | 16:01 WIB KOMPAS.com —

suhu.jpg

 

JAKARTA, Laju perubahan suhu udara kota-kota di Indonesia menunjukkan kenaikan maksimum lebih dari 1 derajat celsius dalam 10 tahun. Dari analisis data iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang diambil tahun 1983-2003, kenaikan suhu udara per 10 tahun ternyata 0,036 derajat celsius-1,383 derajat celsius.

 

Kenaikan suhu udara terendah tercatat di Kota Sibolga, Sumatera Utara, mencapai 0,036 derajat celsius dari rata-rata 31,52 derajat celsius. Adapun kenaikan suhu udara tertinggi tercatat di Kota Wamena, Papua, mencapai 1,38 derajat celsius dari rata-rata 25,97 derajat celsius.

 

"Data kenaikan temperatur itu tingkat kepercayaannya memang masih beragam," kata Kepala Bidang Analisis Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Soetamto di Jakarta, Senin (30/3).

 

Alasannya, analisis data iklim itu belum memasukkan sistem Mann-Kendall, sebuah sistem untuk memperkuat kebenaran hasil analisis data bertahun-tahun. Meskipun begitu, secara umum tren kenaikan suhu diyakini memang terjadi.

 

"Meskipun belum dengan sistem Mann-Kendall, data iklim memang menunjukkan tren kenaikan," kata Soetamto. Dari 16 kota yang dianalisis, kenaikan suhu dalam 10 tahun di enam kota/lokasi ternyata mencapai di atas 1 derajat celsius.

 

Lokasi itu adalah Pulau Bawean, Jawa Timur (1,15 derajat C); Waingapu, Nusa Tenggara Timur (1,11 derajat C); Kupang, NTT (1,35 derajat C); Jayapura (1,22 derajat C), Wamena (1,38 derajat C), dan Merauke (1,15 derajat C)—ketiganya di Provinsi Papua. Di antara 16 kota/lokasi tersebut, suhu kawasan Pulau Tarempa, Natuna, justru diketahui menurun sekitar -0,26 derajat celsius.

 

Soetamto tidak mengetahui penyebab penurunan suhu di Tarempa atau kenaikan suhu hingga di atas satu derajat di tiga kota di Papua. Penghitungan tersebut didasarkan atas seri data iklim.

 

Sangat tinggi

 

Kepala Laboratorium Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Rizaldi Boer mengatakan, kenaikan 1 derajat celsius dalam sepuluh tahun sangatlah tinggi. "Harus dilihat dulu titik-titik pemantauannya dan sumber panasnya dari mana saja," katanya.

 

Menurut Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), jika terjadi kenaikan suhu hingga 2 derajat celsius—dari suhu tahun 1990—pada tahun 2050 kondisi akan sangat sulit dikendalikan. Karena itu, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah harus memperlambat kenaikan suhu.

 

Menurut Rizaldi, kenaikan suhu udara tidak hanya disebabkan oleh sinar matahari atau kenaikan konsentrasi gas rumah kaca. Ada faktor aktivitas industri, transportasi, dan populasi.

 

Ketiganya faktor yang terkait dengan aktivitas manusia (antroposentris). Aktivitas industri sejak abad ke-16 selama ini diyakini sebagai pemicu awal emisi karbon—salah satu gas rumah kaca yang memerangkap panas bumi.

 

Berdasarkan hal itu, suhu di kawasan perkotaan dipastikan akan lebih cepat panas daripada daerah kawasan pinggiran atau kawasan dengan vegetasi rapat.

 

"Suhu rata-rata udara jadi minus, itu mungkin saja. Misalnya, ada penyerap panas seperti hutan di kawasan yang dulunya tidak ada hutannya," katanya.

 

Dampak perubahan

 

Saat ini secara global diyakini, perubahan temperatur akan berdampak negatif pada banyak hal. Sejumlah penyakit akan mewabah dalam skala luas, cuaca semakin sulit diprediksi, intensitas badai dan puting beliung akan meningkat, terjadinya penggurunan, terjadi kenaikan permukaan laut, hingga munculnya ancaman ketahanan pangan akibat pola tanam yang berubah-ubah.

 

Saat ini musim kemarau di Indonesia semakin panjang, sedangkan musim hujan kian pendek. Namun, intensitas hujannya tinggi yang berakibat banyak kejadian banjir dan tanah longsor.

 

"Temperatur meningkat, dampak negatifnya banyak," kata Rizaldi Boer.

 

Sektor pertanian kesulitan dengan iklim yang berubah. Musim tanam mengalami pergeseran. Ada yang bergeser maju, tetapi ada pula yang justru mundur. Peta pertanian kini sedang mengalami perubahan.

 

Ketersediaan air pada saat musim hujan (5 bulan) sebanyak 80 persen dari kebutuhan nasional, sedangkan pada saat kemarau (7 bulan) hanya 20 persen dari kebutuhan.

 

Keadaan itu diperburuk oleh kondisi irigasi dan daerah aliran sungai. Data Badan Penelitian dan Pembangunan Departemen Pertanian menunjukkan, sebesar 25 persen jaringan irigasi tidak berfungsi optimal. (GSA)

 

Jembatan Es Antartika Patah

Senin, 6 April 2009 | 05:31 WIB KOMPAS.com

3211243p.jpg

LONDON, -Sebuah jembatan es di Antartika yang menahan lapisan es sebesar wilayah Jamaika patah, dan ini memperbesar kekhawatiran soal dampak pemanasan global.

 

Ada indikasi baru bahwa lempengan hamparan es itu mungkin akan segera terlepas dari Antarktika. Gambar-gambar satelit terbaru dari Badan Angkasa Eropa (ESA) menunjukkan bahwa salah satu jembatan es yang menghubungkan lempeng Wilksin dengan dua pulau yang berdampingan telah runtuh.

 

Para ilmuwan mengatakan, pemanasan global menyebab ambruknya jembatan es tersebut. Lempeng itu telah mengalami penyusutan sejak tahun 1990-an, tapi ini kali pertama kehilangan salah satu penghubung yang menahannya tetap di tempat.

 

Survei Kutub Selatan Inggris (British Antarctic Survey) menyatakan, enam lapisan es di bagian yang sama benua itu telah hilang. Sebuah foto satelit ESA menunjukkan gunung-gunung es baru tercipta yang mengapung di laut di belahan barat semenanjung Antarktika yang menonjol dari benua itu ke arah ujung selatan Amerika Selatan.

 

"Sangat mencengangkan bagaiman es itu pecah," kata David Vaughan, glasiologis pada British Antarctic Survey, seperti dikutip kantor berita Reuters. "Dua hari lalu, dia masih utuh. Kami menunggu lama untuk melihat ini," tambah Vaughan.

 

Profesor Vaughan berdiri di atas jembatan es itu bulan Januari untuk menempatkan pelacak GPS untuk memantau pergerakan. Meski patahan itu tidak memengaruhi permukaan laut, ini memperbesar kekhawatiran soal dampak perubahan iklim di bagian Antarktika tersebut.

 

Menurut ilmuwan, Semenanjung Antarktika telah mengalami pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam masa 50 tahun terakhir. Beberapa lapisan es menyusut dalam 30 tahun terakhir, enam dari jumlah itu ambruk total.

 

Orgasme Saat Melahirkan

Kamis, 19 Maret 2009 | 23:27 WIB - KOMPAS.com –

org.jpg

 

Napas berat dengan sedikit erangan biasanya menjadi tanda adanya nyeri dan kondisi capai. Namun, sejumlah wanita muda menyebutkan ini mereka alami bukan karena kelelahan, melainkan akibat mengalami orgasme saat melahirkan.

 

"Ini, seperti istilah kami, rahasia yang selama ini tersembunyi," jelas Debra Pascali Bonaro, ahli kandungan dari Amerika yang sudah 26 tahun membantu persalinan para ibu muda.

 

Dan untuk membuktikan hal ini nyata, Debra membuat sebuah film dokumenter dari para wanita ini saat melahirkan. Mereka mengeluarkan erangan dengan napas terengah apalagi saat pasangannya mencium dan memberi perhatian lebih.

 

"Melahirkan lebih merupakan pengalaman yang dapat dinikmati daripada dianggap sebagai beban." jelas Debra.

 

Seorang ibu muda warga Amerika, Amber Hartnell (29), yang membintangi beberapa film kontroversial pernah difilm saat melahirkan bayi laki-lakinya di sebuah kolam.

 

Dia gambarkan pengalaman ini. Katanya, "Tiba-tiba orgasme langsung aku rasakan saat bayi tergelontor hendak keluar tapi masuk lagi. Tubuhku terasa seperti berputar dan terpilin. Aku tertawa sambil menangis."

 

Seorang ahli yang diinterview dalam film itu mengatakan bahwa sebenarnya saat-saat melahirkan adalah saat yang menyenangkan karena hormon oksitosin, penimbul rasa nikmat, dikeluarkan dari tubuh. Keadaan ini dikombinasi dengan adanya stimulasi dari sang bayi pada G-spot sang ibu hingga teriakan keras berbunyi "Oooowww" bakal terlontar.

 

Sheila Kitzinger, ahli kandungan dari Inggris mengatakan bahwa sudah ratusan kali wanita yang mengalami orgasme saat melahirkan dia temui.

 

Hanya saja, Sheila mengingatkan agar pengalaman ekstasis ini jangan sampai menimbulkan tekanan. "Jangan sampai sang ibu atau bidan berpikir bahwa mereka gagal karena tidak mengalami orgasme."

 

Pijat Erotik Bikin Seks Makin Nikmat

Jumat, 27 Maret 2009 | 22:47 WIB KOMPAS.com –

224408p.jpg

 

Joel D. Block dalam bukunya, Secret of Better Sex, mengatakan bahwa pijat adalah salah satu foreplay yang cukup banyak digemari. Selain membuat rileks karena peredaran darah lancar, pijat membuat seks menjadi lebih nikmat rasanya.

 

1. Gunakan sedikit minyak bayi atau lotion. Tuangkan di tangan Anda. Pijatlah pasangan Anda dengan lembut di seluruh tubuhnya. Mulailah dari punggung.

2. Gunakan rambut, mulut, dan payudara Anda untuk memijat tubuh pasangan.

3. Pijatlah bagian bokong dan akhiri dengan sentuhan ringan pada sela di antara bokong. Mintalah ia untuk berputar.

4. Dengan satu tangan memijat di bagian depan tubuh pasangan Anda, telapak tangan yang satunya mulai memijat payudara atau dada. Pijat kedua payudara atau dada.

5. Lakukan “perjalanan” singkat menaiki dan menuruni tubuh pasangan Anda di antara genital dan payudara.

6. Pisahkan tungkai pasangan Anda. Pijat paha bagian dalam. Bergerak ke abdomen/perut dan kembali ke paha bagian dalam. Raba genital dengan satu tangan sementara tangan satunya memijat abdomen, dada, atau paha. Tingkat gairah dan rangsangan yang dialami pasangan Anda menentukan berapa jauh Anda melakukan pijat genital.

Selamat mencoba!

 

Sunat Lindungi Pria dari PMS

 

images-image_popup-pr7_circumcision.jpg

 

LOS ANGELES, Sunat tak hanya melindungi kita dari HIV, melainkan juga mencegah tertular penyakit menular seksual (PMS). Demikian hasil temuan baru para ilmuwan.

 

Dikatakan, sunat pada pria dapat mengurangi risiko infeksi virus HPV atau human papillomavirus hingga 35 persen dan herpes 28 persen. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan, sunat tetap tidak berpengaruh pada penyakit seperti syphilis.

 

Penelitian besar di tiga negara Afrika termasuk Uganda sebelumnya menunjukkan bahwa sunat mengurangi risiko terinfeksi virus AIDS hingga 60 persen. Penelitian baru dari Uganda selanjutnya menyatakan bahwa sunat juga melindungi pria dari tiga jenis PMS lain. Temuan ini dipublikasikan di Jurnal Kedokteran New England.

 

"Sekarang benar-benar terbukti bahwa sunat mempunyai arti penting bagi pencegahan dan harus disosialisasikan lebih luas," jelas Matthew Golde dan Judith Wasserheit dari Universitas Washington.

 

Menurut survei National Center for Health Statistics, di seluruh dunia, hanya 30 persen pria yang disunat, terbanyak ada di Amerika Serikat. Sebanyak 79 persen pria disunat di negeri Paman Sam ini. Para ilmuwan selanjutnya berencana akan meneliti apakah sunat juga bisa mengurangi penyebaran HPV pada wanita.