.....sekedar info content blog ini BUKAN MURNI sepenuhnya hasil karya pemilik blog oleh sebab itulah setiap content dari blog ini "dicantumkan" dengan tulisan sumber atau asal kontent blog ini berasal, terimaksih sebelumnya....




.....Informasi Reader Saat ini tampilan Terbaik content blog dapat dinikmati dengan
Opera Browser
Dan IE Browser 7 ke atas



Friday, April 17, 2009

Orgasme Saat Melahirkan

Kamis, 19 Maret 2009 | 23:27 WIB - KOMPAS.com –

org.jpg

 

Napas berat dengan sedikit erangan biasanya menjadi tanda adanya nyeri dan kondisi capai. Namun, sejumlah wanita muda menyebutkan ini mereka alami bukan karena kelelahan, melainkan akibat mengalami orgasme saat melahirkan.

 

"Ini, seperti istilah kami, rahasia yang selama ini tersembunyi," jelas Debra Pascali Bonaro, ahli kandungan dari Amerika yang sudah 26 tahun membantu persalinan para ibu muda.

 

Dan untuk membuktikan hal ini nyata, Debra membuat sebuah film dokumenter dari para wanita ini saat melahirkan. Mereka mengeluarkan erangan dengan napas terengah apalagi saat pasangannya mencium dan memberi perhatian lebih.

 

"Melahirkan lebih merupakan pengalaman yang dapat dinikmati daripada dianggap sebagai beban." jelas Debra.

 

Seorang ibu muda warga Amerika, Amber Hartnell (29), yang membintangi beberapa film kontroversial pernah difilm saat melahirkan bayi laki-lakinya di sebuah kolam.

 

Dia gambarkan pengalaman ini. Katanya, "Tiba-tiba orgasme langsung aku rasakan saat bayi tergelontor hendak keluar tapi masuk lagi. Tubuhku terasa seperti berputar dan terpilin. Aku tertawa sambil menangis."

 

Seorang ahli yang diinterview dalam film itu mengatakan bahwa sebenarnya saat-saat melahirkan adalah saat yang menyenangkan karena hormon oksitosin, penimbul rasa nikmat, dikeluarkan dari tubuh. Keadaan ini dikombinasi dengan adanya stimulasi dari sang bayi pada G-spot sang ibu hingga teriakan keras berbunyi "Oooowww" bakal terlontar.

 

Sheila Kitzinger, ahli kandungan dari Inggris mengatakan bahwa sudah ratusan kali wanita yang mengalami orgasme saat melahirkan dia temui.

 

Hanya saja, Sheila mengingatkan agar pengalaman ekstasis ini jangan sampai menimbulkan tekanan. "Jangan sampai sang ibu atau bidan berpikir bahwa mereka gagal karena tidak mengalami orgasme."

 

Pijat Erotik Bikin Seks Makin Nikmat

Jumat, 27 Maret 2009 | 22:47 WIB KOMPAS.com –

224408p.jpg

 

Joel D. Block dalam bukunya, Secret of Better Sex, mengatakan bahwa pijat adalah salah satu foreplay yang cukup banyak digemari. Selain membuat rileks karena peredaran darah lancar, pijat membuat seks menjadi lebih nikmat rasanya.

 

1. Gunakan sedikit minyak bayi atau lotion. Tuangkan di tangan Anda. Pijatlah pasangan Anda dengan lembut di seluruh tubuhnya. Mulailah dari punggung.

2. Gunakan rambut, mulut, dan payudara Anda untuk memijat tubuh pasangan.

3. Pijatlah bagian bokong dan akhiri dengan sentuhan ringan pada sela di antara bokong. Mintalah ia untuk berputar.

4. Dengan satu tangan memijat di bagian depan tubuh pasangan Anda, telapak tangan yang satunya mulai memijat payudara atau dada. Pijat kedua payudara atau dada.

5. Lakukan “perjalanan” singkat menaiki dan menuruni tubuh pasangan Anda di antara genital dan payudara.

6. Pisahkan tungkai pasangan Anda. Pijat paha bagian dalam. Bergerak ke abdomen/perut dan kembali ke paha bagian dalam. Raba genital dengan satu tangan sementara tangan satunya memijat abdomen, dada, atau paha. Tingkat gairah dan rangsangan yang dialami pasangan Anda menentukan berapa jauh Anda melakukan pijat genital.

Selamat mencoba!

 

Sunat Lindungi Pria dari PMS

 

images-image_popup-pr7_circumcision.jpg

 

LOS ANGELES, Sunat tak hanya melindungi kita dari HIV, melainkan juga mencegah tertular penyakit menular seksual (PMS). Demikian hasil temuan baru para ilmuwan.

 

Dikatakan, sunat pada pria dapat mengurangi risiko infeksi virus HPV atau human papillomavirus hingga 35 persen dan herpes 28 persen. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan, sunat tetap tidak berpengaruh pada penyakit seperti syphilis.

 

Penelitian besar di tiga negara Afrika termasuk Uganda sebelumnya menunjukkan bahwa sunat mengurangi risiko terinfeksi virus AIDS hingga 60 persen. Penelitian baru dari Uganda selanjutnya menyatakan bahwa sunat juga melindungi pria dari tiga jenis PMS lain. Temuan ini dipublikasikan di Jurnal Kedokteran New England.

 

"Sekarang benar-benar terbukti bahwa sunat mempunyai arti penting bagi pencegahan dan harus disosialisasikan lebih luas," jelas Matthew Golde dan Judith Wasserheit dari Universitas Washington.

 

Menurut survei National Center for Health Statistics, di seluruh dunia, hanya 30 persen pria yang disunat, terbanyak ada di Amerika Serikat. Sebanyak 79 persen pria disunat di negeri Paman Sam ini. Para ilmuwan selanjutnya berencana akan meneliti apakah sunat juga bisa mengurangi penyebaran HPV pada wanita.

 

 

Terapi Testosteron Bikin Pria Kembali Muda

Jumat, 9 Januari 2009 | 02:58 WIB -kompas

maco.jpg

PROSES penuaan memang tidak dapat dihindari. Terdapat kemunduran progresif pada fungsi tubuh seiring bertambahnya usia. Pergerakan makin melambat. Ini terjadi karena waktu dan usia yang terus berjalan dan tidak bisa diulang kembali. Proses penuaan tentu memberi pengaruh cukup berbarti pada kehidupan dan aktivitas setiap manusia. Semakin tua, semakin mudah terkena penyakit dan sulit beraktivitas.

 

Diperkirakan 40% dari pria yang berusia 40 tahun ke atas akan mengalami kelesuan, kurangnya konsentrasi, mood berubah-ubah, lekas marah, bahkan depresi dan bekurangnya kekuatan otot, stamina atau kehilangan libido atau sulit mempertahankan ereksi. Ini semua merupakan gejala-gejala SLOH atau symptomatic late-onset hypogonadism.

 

Meski demikian, gejala dan tanda-tanda klinis yang berhubungan dengan hypogonadism, tidak selalu semata disebabkan oleh hypogonadism. Karena hormon juga berkurang seiring bertambahnya usia, berbagai perubahan hormon lainnya juga berperan dalam mengakibatkan terjadinya SLOH. Efek dari hypogonadism ini pun mempengaruhi kualitas hidup ketika usia bertambah dan produksi hormon turun.

 

Lalu mengapa banyak dokter menilik penggantian testosterone untuk mengatasi SLOH? Karena hypogonadism berdampak pada kualitas hidup. Beberapa penelitian menyebutkan area yang paling terpengaruh dengan terjadinya SLOH adalah berkurangnya energi dan performa seksual. Beberapa survei juga menunjukkan hypogonadism mempengaruhi daya ingat, energi, kekuatan fisik dan kegiatan seksual. Penggantian testosterone juga dapat memberikan keuntungan yang berkaitan dengan rendahnya risiko terkena kanker prostat, penyakit jantung, osteoporosis dan keretakan pada tulang.

 

Setiap pria tahu bahwa kita mengalami penurunan pada saat menua. Bisa jadi SLOH. Kira-kira 50% pria mengalami gejala-gejala ini pada usia 55 tahun. Namun hypogonadism pada pria ini kerap tidak dialporkan dan didiagnosa lebih lanjut. Awal baik yang dapat dilakukan para pria yang mulai merasa stamina adalah dengan mengenali gejala-gejala SLOH. Sehingga pemeriksaan tingkat testosterone pun dapat dilakukan untuk mendapatkan diagnosa pasti. Perawatan yang dilakukan pun dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan. Terapi testosterone tentu patut untuk dipertimbangkan agar SLOH tidak menyebabkan kualitas hidup dan stamina menurun.

 

Suntik Testosteron Bikin Pria Jadi Macho

Kamis, 17 Juli 2008 | 19:38 WIB- Kompas

maco.jpg

JAKARTA, KAMIS - Program edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mendeteksi adanya penurunan hormon testosteron sejak dini perlu terus dilakukan. Oleh karena, disfungsi testosteron yang tidak segera ditanggulangi bisa menimbulkan sindroma metabolik yang mengarah pada diabetes dan penyakit jantung.

 

Menurut pakar andrologi Nugroho Setiawan, dalam dialog terbuka yang diprakarsai Bayer Schering Pharma bertema Restore The Man with Testosterone , Kamis (17/7), di Jakarta, hormon testosteron merupakan hormon yang sangat penting bagi pertumbuhan pria.

 

Hormon inilah yang memicu pertumbuhan tulang, otot, rambut dan gairah seksual. Namun, sejalan dengan usia, hormon ini akan berkurang stiap tahun setelah pria mencapai usia 40 tahun. "Kondisi ini juga disebut sindrom penurunan testosteron," ujarnya menegaskan .

 

Sejumlah gejala sindrom penurunan testosteron meliputi kelelahan, penurunan massa otot, penurunan daya ingat dan penurunan gairah seksual. Kondisi ini seringkali diabaikan orang awam akibat kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai sindrom penurunan testosteron. "Hal ini membuat para pria berupaya mengobati sendiri penyakit ini dengan produk yang dijual bebas, tanpa mempertimbangkan bantuan yang ahli di bidangnya," kata Nugroho.

 

Gaya hidup pria masa kini turut memicu kasus penurunan hormon testosteron pada usia muda. Selain konsumsi alkohol yang tinggi, pola makan tidak sehat dan kurang olahraga merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko sindrom penurunan testosteron. Ironisnya, gaya hidup seperti itulah yang dianut pria moderen saat ini, ujarnya menambahkan.

 

Medical Expert Primary Care dan Specialized Therapeutics PT Bayer Indonesia David Laksono Sigit menambahkan, sindrom penurunan testosteron dan disfungsi ereksi merupakan masalah yang sering ditemukan pada pria di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu terapi untuk mengatasi masalah itu adalah, injeksi testosterone undecanoate dan vardenafil.

 

Injeksi ini memungkinkan tercapainya kadar testosteron yang stabil dan konstan bagi tubuh untuk jangka waktu lama dengan dosis empat kali dalam setahun. Hasil penelitian membuktikan, injeksi testosterone undecanoate mampu meningkatkan gairah seksual dan memperbaiki fungsi seksual pada pria, meningkatkan massa dan kekuatan otot, mengurangi lemak tubuh dan bisa meningkatkan rasa percaya diri pria. Pria kembali jadi macho.

 

Selain itu, ada terapi oral yang merupakan solusi cepat untuk mengatasi disfungsi ereksi. Sebelum menjalani terapi, penderita disfungsi testosteron harus menjalani pemeriksaan medis. Jika ternyata menderita kanker prostat, maka terapi yang dilakukan bisa menimbulkan kontraindikasi sehingga sebaiknya tidak dilakukan, kata Nugroho menjelaskan.

 

Suntik Faktor VIII Selamatkan Penderita Hemofilia

Kamis, 16 April 2009 | 21:46 WIB- KOMPAS.com -

Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati

hemofili.jpg

 

JAKARTA, Saat ini pedarahan pada penderita Hemofilia dapat dicegah dengan menyuntikkan faktor pembeku yang hilang seperti faktor VIII.

 

Perdarahan bisa berakibat fatal pada penderita hemofilia, kelainan darah genetik. Hal ini mengakibatkan banyak orang tua anak penderita hemofilia cenderung membatasi ruang gerak anak, sehingga bisa menghambat tumbuh kembang anak mereka.

 

Demikian diungkap dr Djajadiman Gatot dari Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam seminar sebagai rangkaian Hari Hemofilia Sedunia, di Hotel Intercontinental, Jakarta Kamis (16/4).

 

Djajadiman menjelaskan, hemofilia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya di mana protein yang diperlukan untuk membentuk pembekuan darah tidak ada atau jumlahnya sangat sedikit. Hemofilia A, jenis hemofilia paling umum, terjadi karena kekurangan atau sangat sedikitnya protein pembekuan darah atau faktor VIII.

 

Saat penderita hemofilia berdarah, mereka tidak mengalami pendarahan lebih cepat dari normal. Namun mereka mengalaminya dalam waktu lebih lama. Tingkat keparahan individu tergantung pada jumlah faktor pembekuan darah yang terdapat dalam darah mereka.

 

Para penderita hemofilia berat biasanya lebih sering mengalami perdarahan pada sendi mereka. Pendarahan sering terjadi secara spontan, artinya pendarahan terjadi tanpa sebab jelas. Adapun penderita tingkat ringan biasanya hanya mengalami pendarahan setelah ope rasi atau mengalami luka besar.

 

Sebagian besar terjadi pada sendi terutama lutut, pergelangan dan siku. Perdarahan berulang terjadi karena tidak adanya terapi yang tepat dan dapat merusak tulang rawan dan tulang pada sendi yang menyebabkan arthritis dan kec acatan. Bahkan, beberapa jenis pendarahan mengancam nyawa dan butuh terapi cepat meliputi pendarahan dalam kepala, kerongkongan dan usus.

 

Meski tidak bisa disembuhkan, perkembangan pengobatan hemofilia maju pesat. Berbagai terapi dasar untuk hemofilia A meliputi penggantian faktor VIII melalui seluruh darah lengkap dan plasma, tetapi tidak semua terapi efektif, butuh terapi di rumah sakit, dan menyebabkan transmisi patogen yang dapat hidup dalam darah.

 

Fungsi Otak Merosot Mulai Usia 27 Tahun

Minggu, 5 April 2009 | 10:15 WIB - KOMPAS.com -

funsi otak.jpg

KEMEROSOTAN fungsi mental seringkali dipandang sebagai masalah usia lanjut, tapi aspek tertentu fungsi otak sesungguhnya mengawali kemerosotannya pada usia sangat masih muda.

   

Satu studi baru, yang dilakukan dengan menelusuri lebih dari 2.000 orang dewasa sehat yang berusia antara 18 dan 60 tahun, mendapati, fungsi mental tertentu --termasuk ukuran pemikiran abstrak, kecepatan mental dan penyelesaian masalah-- mulai tumpul saat seseorang berusia 27 tahun.

   

Sementara itu, celah di dalam ingatan biasanya mulai nyata saat usia seseorang mencapai 37 tahun. Sebaliknya, petunjuk mengenai pengetahuan yang dikumpulkan seseorang --seperti penampilan saat ujicoba kosa kata dan pengetahuan umum-- tetap meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, demikian temuan yang disiarkan di dalam jurnal "Neurobiology of Agung", sebagaimana dikutip kantor berita resmi China, Xinhua.

   

Hasil tersebut tak berarti bahwa orang muda yang dewasa perlu mulai mengkhawatirkan ingatan mereka. Kebanyakan ingatan manusia berfungsi pada tingkat tinggi bahkan dalam hidup mereka selanjutnya, kata peneliti yang bernama Timothy A. Salthouse, profesor psikologi di "University of Vierginia di Charlottesville".

   

"Pola ini menunjukkan beberapa jenis keluwesan mental menurun relatif dini pada usia dewasa, tapi seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, dan keefektifan untuk menyatukannya dengan kemampuan seseorang, mungkin meningkat sepanjang usia dewasa, jika tak ada penyakit kejiwaan yang menyerang," kata Salthouse dalam siaran pers dari universitas itu.

   

Studi tersebut mencakup orang dewasa yang sehat dan terdidik yang mengikuti pemeriksaan ingatan standard, pemahaman dan persepsi awal, dan pada tahap tertentu selama tujuh tahun berikutnya.

   

Tes tersebut dirancang guna mendeteksi perubahan halus pada fungsi mental, dan melibatkan penyelesaian teka-teki, mengingat kata dan perincian dari cerita, dan pengenalan pola pada tumpukan huruf dan lambang.

   

Secara umum, Salthouse dan rekannya mendapati bahwa aspek tertentu daya kognitif biasanya mulai merosot saat orang memasuki akhir usia 20-an sampai 30-an.

   

Temuan tersebut memberi pengertian mengenai perubahan normal yang berhubungan dengan usia pada fungsi mental, yang dapat membantu dalam memahami proses hilang ingatan, kata para peneliti itu.

   

"Dengan mengikuti perkembangan orang dari waktu ke waktu," kata Salthouse, "kami dapat mendalami perubahan kognitif, dan mungkin menemukan cara guna meringankan atau memperlambat laju penurunan tersebut."

   

"Dan dengan lebih memahami proses ketidak-seimbangan kognitif," katanya, "kami mungkin dapat dengan lebih baik meramalkan serangan dementia seperti penyakit Alzheimer," katanya.

   

Para peneliti itu saat ini menganalisis gaya hidup dan kesehatan peserta studi guna melihat faktor yang mungkin mempengaruhi perubahan daya kognitif yang berkaitan dengan usia.

 

ABI

Sumber : Ant